14 Tahun Perdamaian RI – GAM, Eks Kombatan GAM D- IV Tagih Janji Pemerintah Pusat

Negaraonline.com, Aceh Utara – Eks Kombatan GAM (Eks Kombatan GAM D- IV Gerakan Aceh Merdeka ) Daerah IV Tgk. Chik Ditunoeng mengadakan silaturahmi dan doa bersama di kompleks pemakaman 10 Syuhada , di Desa Matang Sijuk Barat, Kecamatan Baktiya Barat. Jum’at (12/07/19).

Silaturahmi ini digelar dalam rangka menyambut 14 tahun perdamaian MoU Helsinki antara RI-GAM yang dihadiri beberapa petinggi GAM di antaranya Tgk Zulkarnaini bin Hamzah atau Tgk Ni yang juga Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Pase, Aceh Utara, Para eks Tripoli, Ketua DPRK Aceh Utara Ismail A Jalil, para DPRK dan DPRA terpilih dan juga para eks Kombatan GAM.

Kompleks pemakaman 10 Syuhada merupakan, 10 mantan tentara gerakan aceh merdeka yang syahid ketika bertempur dengan TNI pada tahun 2003 silam, kesepuluh korban kebumikan dalam 1 liang, dan kini menjadi momen tersendiri bagi para eks kombatan GAM saat mengenang perjuangan mereka sebelum perdamaian GAM dan NKRI tercapai di Helsinki pada 15 Agustus tahun 2005 lalu.

Panglima Muda Daerah IV, M Jhonny kepada media ini mengatakan, terdapat 1000 makam para Syuhada ( Kombatan GAM ) di Daerah empat yaitu terletak di Sagoe Raja Sabi, Kulam Meudelat, Kuta Piadah dan Sagoe Pang Nanggroe.

” 1000 yang terdata dan jelas nama dan alamat nya, mungkin masih banyak lagi, kita yang tidak terdata”, ucap Panglima Muda Daerah IV itu .

Sementara Tgk. Zulkarnain Hamzah atau akrab di sampa Tgk.Ni dalam sambutannya mengajak Kepada seluruh Para Eks kombatan GAM agar kembali bersatu padu dan menjalin komunikasi yang baik antara sesama eks GAM dan juga masyarakat agar tercapai tujuan yang telah kita cita – citakan terdahulu, yang hingga saat ini belum tercapai.

Dirinya juga berharap kepada Pemerintah Pusat untuk segera merealisasikan seluruh butir- butir MoU, dan juga kepada Dewan terpilih untuk terus memperjuangkan agar cita – cita Aceh terdahulu tercapai dan semua butir – butir Mou terealisasi semuanya.

” Perjuangannya GAM terdahulu dalam merebut kemerdekaan, menggunakan senjata dan senjata itu adalah alat untuk merebut kemerdekaan. Namun setelah adanya perjanjian damai antara GAM – RI di Helsinki, maka alat untuk merebut kemerdekaan Aceh diganti dengan Partai Lokal, oleh karena itu siapapun yang telah duduk disana, mari bersatu padu memperjuangkannya seperti yang telah tertulis dalam perjanjian Helsinki,” ucap Tgk Ni.(Syahrul)

Tinggalkan Balasan