Kadis Kominfo : Kita Dominan Dengan Budaya Batak, Namun Budaya Melayu Tetap Mewarnai

www.negaraonline.com, Asahan – Pernikahan Boru Panggoaran Bupati Asahan Drs. H. Taufan Gama Simatupang dr. Sesvianda Fatma Yuliandari Simatupang dengan Ipda Muhammad Tommy Franata SIK, dipenuhi dengan suasana kekerabatan, dan budaya batak dan melayu menjadi ciri khas.

Resepsi pernikahan akan menjadi catatan sejarah di Kabupaten Asahan, karena berdasarkan data yang dihimpun Waspada, tercatat sekitar 20 ribu undangan datang, mulai dari masyarakat umum, pejabat Provinsi, dan daerah di Rumah Dinas Bupati Asahan. Sabtu (14/7).

Mempelai wanita dr. Sesvianda Fatma Yuliandari Simatupang merupakan putri sulung dari Drs. H. Taufan Gama Simatupang-Ny Winda Fitrika Taufan Gama. Sedangkan mempelai pria Ipda Muhammad Tommy Franata, SIK merupakan putra sulung dari Ir. Octoni Heriyanto (pejabat tehnis Pemkab Asahan)-Ny Sri Bulan Siregar.

Bukan tanggung-tanggung, acara juga dimulai dengan Upacara Pedang Pora yang dipimpin Iptu Agus Setiawan (Kanit Ekonomi, Sat Reskrim Polres Asahan), dan yang menjadi acara lebih sakral, Kapoldasu Irjen Paulus Waterpauw menjadi Inspektur Upacara yang dimulai pada pukul 13.00.

Selain itu, karena acara dilakukan di Asahan, sehingga budaya Melayu ikut ambil peran dalam resepsi pernikahan ini. Acara tepung tawar dan nasi hadap-hadapan yang dibawakan Gustami berlangsung dengan penuh ikatan hubung silaturrahmi yang tanpa memandang golongan.

Tidak hanya itu, acara pernikahan ini ditutup dengan adat batak Mangulosi yang dibawakan Dr. Irfan Simatupang dan diramaikan oleh Perkumpulan Marga Simatupang se kabupaten Asahan.

Alhamdulillah, acara pernikahan ini berlangsung dengan baik, dan dari data kami sekitar ada 20 ribu undangan yang hadir. Dimulai pukul 10.00-23.00, jelas Humas Pernikahan Yuli dan Tommy, Rahmat Hidayat Siregar, saat berbincang dengan wartawan.

Hidayat mengatakan, pernikahan ini terbuka untuk umum dan masyarakat Asahan. Tidak hanya itu resepsi ini dilakukan dengan cara yang penuh kekerabatan, sehingga suasana bisa berjalan dengan penuh persaudaraan.

Sedangkan untuk konsep, kita dominan dengan budaya batak, namun budaya melayu tetap mewarnai, jelas Hidayat.

Karena penuhnya para undangan, dan ingin ikut dalam pesta pernikahan putri Bupati Asahan, masyarakat rela antre untuk mendapatkan tempat duduk, dan mencicipi hidangan yang disajikan dalam resepsi pernikahan itu.

Walaupun antri, tidak ada masalah yang penting bisa hadir di acara ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi kami masyarakat umum.

Sebenarnya ingin foto dengan kedua mempelai, tapi tidak sanggup lagi antrinya, banyak masyarakat sudah antre lama, jelas salah satu undangan Heru hadir dalam pesta pernikahan.(FR)

Tinggalkan Balasan